KULTUR SEKOLAH
KULTUR SEKOLAH
Istilah kultur dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku,kesenian,kepercayaan,kelembagaan dan semua produk yang lahir dari karya dan pemikiran manusia yang memiliki ciri atau kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia,budaya(cultur) diartikan sebagai pikiran,adat istiadat,sesuatu yang sudah berkembang,sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sulit diubah.Dalam pemakaian sehari-haru orang menyamakan pengertian budaya dengan trandisi.Tradisi diartikan sebagai ide-ide umum,sikap dalam kebiasaaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.
Deal dan Kent mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai yang dimiliki bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat.Menurut defenisi ini,suatu sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur yang dominan dan sejumlah kultur lain sebagai subordinasi.Sejumlah keyakinan dan nilai disepakati secara luas disekolah dan sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas dikalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai tertentu.
Jadi kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas,terampil,mandiri dan bernurani.
Karakteristik Kultur sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur tersebut.Aktifitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses bersikap,berbuat dan memandang bahkan berfikirnya.Kultur positif akan memberi peluang sekolah beserta warganya untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual siswa.Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual sisa wa dan perbaikan kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan kembang kecerdasan tersebut.Sesangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat anarkis,negatif,beracun,bias dan dominatif.
Kultur sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal. Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan. Stolp dan Smith membedakan antara kultur sekolah dan iklim sekolah. Kultur sekolah merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata hubungan yang ada saat ini.
Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu :
1.Artifak di permukaan
2.Nilai-nilai dan keyakinan di tengah
3.Asumsi yang berada di lapisan dasar.
Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang paling midah diamati seperti misalnya aneka ritual sehari-hari disekolah,berbagai upacara,benda-benda atau simbol disekolah,dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung disekolah.Lapisan yang lebih dalah berupa nilai-nilai dan keyakinan yang ada disekolah.Sebagian norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah,seperti slogan rajin pangkal pandai,air beriak tanda tak dalam,menjadi orang penting itu baik tetapi lebih penting menjadi orang baik,hormati orang lain jika anda ingin dihirmati.Lapisan yang paling dalam adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol,nilai-nilai dan keyakinan yang tak dapat dikenali tetapi berdampak pada perilaku warga sekolah,seperti :
a.Kerja keras akan berhasil
b.Sekolah bermutu adalah hasil kerja sama sekolah dan masyarakat
c.Harmoni hubungan antara warga adalah modal bagi kemajuan.
Artifak ini dapat berupa:
1) Perilaku verbal: ungkapan lisan atau tulis dalam bentuk
kalimat dan kata-kata.
2) Perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.
3) Benda hasil budaya: arsitektur, eksterior dan interior,
lambang, tata ruang, meblair, dan sebagainya.
Dibalik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa:
1) Nilai-nilai: mutu, disiplin, toleransi, dan sebagainya.
2)Keyakinan:tidak kalah dengan sekolah lain bila mau bekerja
keras.
3) Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan pelajaran,
hanya waktu yang diperlukan berbeda.
Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah.
Menurut Senge (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 14), peran kepala sekolah yang berhasil mengelola sekolah adalah yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Mensosialisasikan visi dan misi sekolah dan rencana mencapai visi,
2) Menjelaskan harapan sekolah terhadap guru dan siswa,
3) Selalu tampak di sekolah,
4) Dipercaya oleh guru dan siswa,
5) Membantu pengembangan kemampuan guru,
6) Memberdayakan guru dan siswa,
7) Memberikan pujian dan peringatan terhadap warga
sekolah,
8) Memilikirasahumor,
9) Sebagai model bagi guru dan siswa.
Pengembangan kultur sekolah yang meliputi beberapa hal berikut. Pertama pengembangan kultur artifak yang meliputi:
a) perilaku verbal yaitu seperti ungkapan lisan atau tulis dalam bentuk kalimat dan kata-kata
b) perilaku non verbal seperti ungkapan dalam tindakan
c) benda hasil budaya seperti arsitektur, eksterior dan interior, lambang, tata ruang, mebelair, dan sebagainya.
Kedua pengembangan kultur tersembunyi yang berupa:
a) nilai-nilai yaitu seperti disiplin, toleransi, dan sebagainya
b) keyakinan seperti tidak kalah dengan sekolah lain bila mau kerja keras
c) asumsi seperti semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya waktu yang diperlukan berbeda.
sumber :
- http://20231076.siap-sekolah.com/2013/12/04/kultur-sekolah/#.YkUOMvcxeaM
-https://eprints.uny.ac.id/7779/3/BAB%202%20-%2008110241018.pdf
faiqqq gantenggg
BalasHapusbagussss
BalasHapusMasya Allah Ilmu yang sangat berguna, dengan pemaparan materi yang sudah cukup jelas dan ringkas
BalasHapus